Selasa, 19 Mei 2020

mengevaluasi kebijakan pemprov dan pemprov dipekanbaru dalam menangani kasus covid-19 dan penerapan PSBB

Sejak diumumkan adanya kasus positif pertama kali oleh Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto pada tanggal 2 Maret 2020, Covid-19 kemudian terus menyebar ke seluruh penjuru Indonesia dengan Jakarta sebagai episentrumnya. Berawal hanya ada dua kasus positif di Depok, jumlah penderita berlipat ganda menjadi ribuan dan tersebar di 34 Provinsi hanya dalam durasi waktu kurang dari satu bulan. Dengan skala bencana yang begitu masif, pada tanggal 13 April 2020 Presiden kemudian mengumumkan bahwa Covid-19 telah menjadi bencana nasional melalui Keppres Nomor 12 tahun 2020.
Di Provinsi Riau, jumlah kasus positif Covid-19 beberapa hari terakhir menunjukkan tren menaik. Tercatat sampai dengan tanggal  10 Mei 2020 terdapat 73 kasus positif, yang mana dalam kurun waktu delapan hari saja, terjadi kenaikan 28 kasus positif yaitu posisi tanggal 2 Mei 2020 jumlah kasus positif Covid-19 sebanyak 45 kasus menjadi 73 kasus pada tanggal 10 Mei 2020, yang kalau dirata-ratakan terjadi kenaikan kasus positif 3-4 kasus per hari.
Para ilmuan menghitung tingkat penularan sebuah penyakit dengan angka yang disebut Ro (R-naught) atau the basic reproduction number, merupakan jumlah ekspektasi dari kasus kedua yang dihasilkan dari satu penderita yang mempunyai kemampuan menularkan penyakit, pada saat ia masuk dalam sebuah populasi yang semuanya sehat, selama masa menularnya atau masa infeksi. Demikian definisi ilmiah dari Diekmann dll. (1990).
Dengan masa inkubasi berlangsung selama 14 hari, maka sangat mungkin seseorang yang terjangkit Covid-19 menyebarkannya pada dua orang lain (Ro = 2).
R-naught yang lebih besar dari 1 (Ro>1) dan masa inkubasi yang panjang menjadikan grafik penyebaran COVID-19 bergerak secara eksponensial, artinya grafiknya akan terlihat datar di masa-masa awal sebelum akhirnya melonjak drastis. Selanjutnya pertanyaan mengenai kapan kurva tersebut akan kembali mendatar sangat tergantung pada kecepatan dan efektivitas dari respon yang dilakukan. Konsekuensi dari pola perkembangan seperti itu adalah pengambil kebijakan dan masyarakat akan cenderung lengah dan menggampangkan di awal-awal pandemi, sebelum kemudian terkejut bahwa jumlah kasus meningkat dras